Buku ini di tulis oleh J. W. Siagian.
memberi gambaran tentang bagaimana memimpin dengan hati.
kita semua adalah pemimpin. paling tidak pemimpin untuk diri kita sendiri
Pelayanan Bala Keselamatan di Pedalaman Sulawes Tengah pada tahun 80-an oleh sepasang hamba Tuhan Komisioner Victor Tondi (almarhun) yang pada waktu itu berpangkat Mayor.
Melalui video ini, kiranya dapat menjadi bahan refleksi dan diambil insight untuk kemajuan Pelayanan Bala Keselamatan di masa yang akan datang.
Masih banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan uluran tangan dan sentuhan kasih dari sesamanya yang lebih beruntung.
Hati atau “heart” yang dimaksudkan selanjutnya dalam tulisan ini bukanlah pengertian “hati” atau “jantung” secara ilmu anatomi manusia atau ilmu kedokteran, walaupun penulis adalah seorang dokter.
Hati dalam pengertian “jantung” memang merupakan organ atau alat yang merupakan “pemompa” darah keseluruh tubuh, untuk memenuhi kebutuhan oksigen dari sel sel tubuh dan menerima kembali darah yang mengandung banyak carbon dioksida untuk dibawa kejantung, selanjutnya dipompakan keparu paru untuk mengeluarkan CO2 melalui pernapasan dan mengikat O2 di paru paru dan membawa kembali darah yang mengandung O2 ke jantung kemudian di pompakan lagi keseluruh tubuh.
Hati dalam pengertian “liver” atau “hepar” ialah organ tubuh manusia yang juga erat hubungannya dengan aliran darah sebagaimana paru paru adalah sebagai tempat pertukaran O2 dan CO2, maka “hati” atau “liver” adalah tempat dimana berbagai zat atau bahan makanan yang dimakan tubuh dan diserap usus , diproses menjadi bahan bahan yang dibutuhkan tubuh seperti protein, lemak dan glukosa, yang sangat diperlukan oleh sel sel tubuh. Pada dasarnya baik hati sebagai “jantung” maupun hati sebagai “hepar” atau “liver” adalah suatu organ tubuh yang sangat vital dan sangat menentukan stamina dan kesehatan seseorang. Jantung yang lemah atau hati atau liver yang sakit akan membawa manusia pada suatu kondisi yang tidak sehat dan tidak dapat melakukan aktifitasnya dengan baik dan produktif.
Sebenarnya ada analoginya dengan hati yang dimaksudkan oleh penulis dalam tulisan ini. Hati disini seperti sudah dikatakan diatas tidaklah dalam pengertian organik, tetapi lebih pada pengertian psikologis. Dalam kamus lengkap Inggeris - Indonesia dan Indonesia - Inggeris ,Prof Drs S Wojowasito W.J.S., Poerwadarminta disebutkan arti “hati” sebagai ”liver”, “heart, jantung, mind”, pikiran , dan juga “conscience”, atau “kata batin”. Jadi kepemimpinan dengan hati yang akan diuraikan oleh penulis disini ialah kepemimpinan yang dikendalikan oleh “kata hati” , yang merupakan hasil dari buah buah Roh, artinya hati yang telah dirobahkan oleh jamahan Roh Kudus. Kalau kita mau analogikan dengan kondisi organik, maka hati yang sakit, artinya hati yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka sudah tentu akan menghasilkan suatu hasil kerja yang tidak sesuai dan tidak sehat untuk tubuh.
Kepemimpinan sebenarnya topic yang sudah sejak lama dibicarakan orang, bahkan menurut literature sudah dari tahun 30-an telah dilakukan penelitian oleh para ahli di Amerika. Memang pada dasarnya kepemimpinan itu sudah ada sejak manusia dijadikan, karena kepemimpinan pada hakekatnya adalah suatu usaha untuk mempengaruhi orang lain agar dapat mengikuti apa yang ia inginkan. Bukankah hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh semua orang? Pada saat seseorang mengajak orang lain untuk turut bersama-sama melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama sebenarnya telah terajadi kinerja kepemimpinan mandiri. Kepemimpinan adalah soal bagaimana mempe-ngaruhi orang lain yang dipimpinnya, karena itu kepemim-pinan adalah hal yang sangat penting untuk dibahas. Apakah kepemimpinan itu suatu kepemimpinan yang formal pada suatu perusahaan, suatu institusi, organisasi atau kepemimpinan kelompok baik dalam keluarga atau pun kepemimpinan diri sendiri.
Pemimpin adalah orang yang melakukan proses kepemimpinan, yaitu proses untuk mempengaruhi, bekerja sama dengan orang yang dipimpin, memberitahukan arah mana yang harus dituju dan melakukan perubahan terhadap lingkungan orang orang yang dipimpinnya, maka nilai-nilai dasar yang dianut oleh seorang pemimpin menjadi sangat penting. Dalam buku ini baik pembahasan-nya dan juga pendekatannya mengacu pada prinsip-prinsip alkitabiah, karena itu penulis memberi judul “MEMIMPIN DENGAN HATI”. Maksud pembahasannya ialah bagai-mana melaksanakan metode kepemimpinan yang bersumber dari “hati” yang sudah diubahkan oleh Roh Kudus. Dalam teori-teori kepemimpinan, kajian tentang gaya dan metode kepemimpinan serta jenis-jenis kepemim-pinan, sangat beragam dan sudah begitu banyak dituliskan, namun penulis ingin membahas secara mendalam tentang gaya kepemimpinan dengan hati, karena apa pun metode-nya apa pun gayanya, semuanya tentu berasal dari hati. Hati adalah sumber segala sesuatu yang jahat dan yang baik. Hanya hati yang sudah diubahkan oleh Roh Kudus adalah hati yang akan menghasilkan buah-buah Roh, yang dapat dinikmati oleh sesame. Pemimpin yang memimpin dengan hati adalah pemimpin yang dapat membawa pengaruh yang baik dan mengubah sekitarnya ke arah yang lebih baik berdasarkan kasih sebagai salah satu dari buah Roh Kudus.
Sudah tentu buku ini masih banyak kekurangannya tetapi penulis berharap kiranya melalui buku sederhana ini, para pembaca dapat merenungkan kembali tentang siapakah diri kita sebenarnya, apakah sebagai pemimpin, baik pemimpin diri sendiri, keluarga, masyarakat, organisasi atau institusi apapun, sudah melakukan kepemimpinan dengan hati secara benar dan membawa kesejahteraan serta perubahan yang positif terhadap lingkungannya dan dunianya?.
Akhirnya, penulis sangat mengharapkan masukan masukan dari para pembaca, kiranya pada penerbitan berikutnya buku ini dapat lebih disempurnakan dan akan membawa kemulian bagi nama Tuhan.
Penulis adalah seorang Guru Besar Ilmu Patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi Manado (Unsrat). Pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Labo-ratorium Patologi FK Unsrat, Pembantu Dekan, dan Dekan Fakultas Kedokteran Unsrat, serta pernah pula menjabat sebagai Pembantu Rektor I Universitas Sam Ratulangi Manado, yang sebelumnya juga pernah menjabat KetuaLembaga Penelitian Unsrat.
Pengalaman berorganisasi, pernah menjadi Ketua Ikatan Alumni FK Unsrat, Ketua IDI Kota Manado, sampai sekarang masih menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Patologi Indonesia Cabang Manado. Penulis juga aktif di Yayasan Kanker Indonesia Sulawesi Utara dan anggota Badan Registrasi Kanker Nasional.
Penulis yang dilahirkan 22 Nopember l943 di Purworejo adalah putra keluarga Pendeta Bala Keselamatan. Kegiatan penulis dilingkungan Gereja, pernah menjadi Ketua Pemuda Gerakan Pembawa Suluh Bala Keselamatan Manado dan Sulawesi Utara, sampai saat menulis buku ini, masih menjadi Majelis (Sersan Mayor Korps) di Gereja Bala Keselamatan Korps Manado I, serta membantu pelayanan baik dikalangan jemaat dewasa, maupun orang muda dan anak anak dan sering kali dimintakan memberikan ceramah tentang Kepemimpinan Kristen dan Organisasi Kepemudaan, baik diforum pemuda Gereja dan juga di Forum Mahasiswa Kristen khususnya di Manado dan dikota lain di Indonesia. Juga sering dimintakan untuk memberikan ceramah Kepemim-pinan Wanita di organisasi Wanita Gereja Bala Kesela-matan.
Saat menulis buku ini, penulis masih dimintakan untuk memberikan kuliah Patologi dan Etika Moral untuk mahasiswa Kedokteran Unsrat dan Mahasiswa Calon Dokter Spesialis di FK Unsrat Manado, disamping itu membantu manajemen kepemimpinan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Gereja Bala Keselamatan Makassar.